Tampilkan postingan dengan label wisata alam. Tampilkan semua postingan

Geger Menjangan


Kawasan pegunungan, termasuk barisan bukit menoreh. Dari puncak bukit ini kita bisa memandang lepas kota Purworejo, bahkan jauh ke selatan, Pantai selatan. Jalan setapak yang mendaki menjadi keasyikan tersendiri asyik untuk jalan-jalan. Perjalanan dari pintu masuk obyek hingga puncak bukit memang cukup mengasyikkan. Wisatawan ditantang untuk membuktikan kehandalan tenaga dengan mendaki bukit yang tingginya sekitar 175 m di atas permukaan laut. Setelah sampai di puncak, wisatawan akan menemukan sebuah bangunan berukuran 6 x 10 meter, itulah gardu pemandangan yang sengaja dibangun untuk menikmati keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan.Selain itu, kawasan Geger Menjangan masih menawarkan beberapa obyek rekreasi lainnya, yaitu taman permainan anak dan kolam renang. Kolam renang dan taman pemancingan terletak di pintu masuk kawasan. Untuk mencapai ke sana bisa naik angkutan jurusan Kalibata, jalan yang arah ke Magelang, dekat dengan pusat kota kabupaten.

Pantai Ketawang

Terletak di wilayah kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pintu masuk dari Desa Ketawang, namun wilayah pantai meliputi garis pantai sepanjang kurang lebih 3 km sampai pantai Pasir Puncu. Dapat di tempuh dari Kutoarjo 12 km, bisa juga dari arah Jogja dan Kebumen lewat jalur selatan.Merupakan wilayah pantai pasir hitam dengan ombak dan angin yang besar. Tiap Idul Fitri, tempat ini dikunjungi banyak wisatawan lokal, baik dari wilayah Grabag sendiri maupun dari wilayah yang iaju, seperti Bruno, Winong, Kemiri. Pantai ini ramai karena ada semacam adat, kalau Lebaran, ada namanya "riyayan", lamanya satu pekan. Pada hari kedelapan dinamakan syawalan, hari penutup wisata. Selama 8 hari itu biasanya orang-orang menggunakannya untuk berwisata pantai bersama keluarga, bagi yang muda-muda, untuk cari kenalan.Sebenarnya tempat ini biasa saja, masih butuh banyak penataan untuk dijadikan sebagai tempat wisata modern. Tempat yang panas dan tidak adanya peneduh menjadi salah satu ketidaknyamanan, namun hembusan angin pantai yang keras meringankan panasnya matahari.Tak perlu repot membawa makanan, aneka warung menjual kupat tahu, mie ayam, bakso, sate, atau rames berjajar sepanjang pantai. Juga aneka minuman seperti dawet, es buah, atau teh.Pantai Pasir PuncuTerletak sekitar 2.5 km dari pantai Ketawang. Bisa dituju dengan jalan kaki menyusuri pantai. Bisa juga dengan mobil atau motor, melewati pinggiran 'hutan' bekas galian penambangan pasir besi.Objek yang menarik, pantai terletak di muara sungai awu-awu, ada bekas dermaga buatan Belanda yang tak lagi digunakan. Dari dermaga ini kita akan menyaksikan ombak yang besar menabrak batu, mengakibatkan air naik ke udara.

Goa Seplawan




Berada di desa donorejo, kecamatan kaligesing sekitar 40km ke timur dari pusat kota.  Gua Seplawan adalah satu-satunya gua di Purworejo yang sudah dijadikan obyek wisata.  Gua Seplawan itu merupakan satu situs yang sangat bernilai tinggi.  Sebab, gua yang ditemukan pada 15 Agustus 1979 itu di salah satu sudut gua ditemukan sebuah arca emas 22 karat setinggi 9 cm degnan berat 1,5kg.  Arca itu berupa patung sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan.  Para ahli arkeolog meyakini bahwa patung itu adalah Dewa Siwa dan Dewi Parwati.  Arca itu merupakan peninggalan pada zaman Hindu Siwa.  Kini arca tersebut disimpan di Museum Nasional.  Sebagai gantinya, Pemerintah membangun replika arca didepan mulut gua, replika itu ukurannya lebih besar dari yang sebenarnya sehingga menyerupai monumen.  Panjang dari goa seplawan kurang lebih 700 m (untuk jalur wisatawan) dan masih juga terdapat cabang-cabang dengan jalur ekstrim yang hanya bisa dimasuki oleh orang yang benar-benar ahli dalam bidang penelusuran goa.  Dengan hamparan stalagtit dan stalagmit yang indah dan juga aliran sungai bawah tanah, gua ini terkesan tenang dan damai ketika kita berda didalamnya.

Benteng Pendem Perbukitan Kalimaro



Berbicara tentang budaya dan sejarah, Purworejo begitu banyak menawarkan tempat-tempat bersejarah, salah satunya adalah Benteng Pendem.  Benteng yang lazimnya dalam angan-angan kita terbayang berdiri kokoh tinggi dan besar, tapi benteng yang berada di Purworejo ini justru berada di dalam tanah. Lihat saja namanya Benteng Pendem, kata pendem berasal dari bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia artinya kubur, jadi Benteng Pendem bisa dikatakan benteng yang dikubur. Benteng pendem ini merupakan peninggalan tentara Jepang yang dibangun pada tahun 1945. Jumlah total Benteng Pendem yang berada di Purworejo ini sebenarnya ada 29 buah, tetapi yang tampak hanya beberapa saja karena yang lain masih tertutup oleh tanah.
Letak Benteng Pendem berada di Desa Bapangsari, Kecamatan Bagelen, lebih tepatnya di perbukitan Dukuh Kalimaro. Perjalanan untuk mencapai Benteng Pendem dari jalan raya besar, kita akan disuguhi dengan pemandangan yang indah lengkap dengan berbagai aktivitas para penduduk setempat yang jarang kita lihat di kota. Akan kita jumpai pula ketika di pagi atau siang hari, suatu bentuk perjuangan yang sungguh luar biasa oleh anak-anak Sekolah Dasar ketika menempuh perjalanan yang melelahkan untuk sampai di sekolahnya, jalan yang terjal dan di sampingnya jurang itulah yang dilalui mereka. Keadaan seperti itu tak sedikit pun raut wajah mereka menampakkan kesusahan, bahkan mereka tertawa riang sambil bergurau dengan teman-temannya seakan lupa jalan yang mereka lalui begitu terjal dan masih jauh untuk sampai sekolah mereka.
Itulah sedikit gambaran masyarakat yang berada di sekitar Benteng Pendem, kembali lagi ke Benteng Pendemnya sekarang. Tujuan dibanggunya benteng ini adalah sebagai tempat pertahanan dan pengintaian tentara Jepang dalam menghadapi musuh pada zaman dulu. Mereka akan lebih mudah mengatur setrategi ketika berada di perbukitan, jarak pandang akan lebih jauh dan luas. Sebab itulah Jepang membangun benteng di perbukitan Dukuh Kaliwaru, karena dinilai tempatnya setrategis. Bangunan era Jepang memang terkenal dengan kekokohannya, terbukti sampai sekarang bangunan Benteng Pendem masih terlihat tegap dan kuat. Sebenarnya hal ini patut kita tiru konstruksinya, sehingga mampu menciptakan bangunan-bangunan yang handal di Indonesia.

Keadaan Benteng Pendem sekarang tentunya berbeda dengan zaman dulu, mungkin karena faktor alam dan lain sebagainya. Hal ini juga tidak terlepas dari tangan-tangan jail yang seenaknya saja mencorat-coret dinding benteng, sehingga kalau kita lihat sekarang seluruh dinding bagian dalam benteng hampir penuh dengan coret-coretan. Sedikit risih juga sebenarnya kalau kita lihat, alangkah baiknya jika bangunan benteng ini tetap bersih seperti dahulu kala sehingga tampak luhur nilai sejarahnya. Sebagai warga Negara Indonesia yang baik tentunya kita akan menjaga warisan sejarah bukan ?
Benteng Pendem sebenarnya adalah peninggalan sejarah yang berpotensi sebagai objek pariwisata. Pemandangan yang indah di sekitar benteng dan suasana alam yang masih asri, akan memberikan nuansa yang berbeda kepada setiap orang yang berkunjung ke sana. Hal ini terbukti dengan sering dijumpai banyak muda-mudi yang berkunjung ke tempat ini. Nah berkaitan dengan hal tersebut akan lebih baik jika ada pihak terkait yang mau ngopeni Benteng Pendem ini, sehingga Purworejo dapat menawarkan tempat wisata kapada para wisatawan, bila mungkin wisatawan asing. Lumayan juga kan kita jadi bisa melihat bule sliwar-sliwer di Purworejo.
Orang Purworejo kalau belum pernah datang ke Benteng Pendem apa nggak merasa rugi? Kita punya kekayaan sejarah, tapi belum pernah menikmatinya. Segeralah untuk berkunjung ke sana, pastinya ada sensasi tersendiri. Apalagi kalau kita masuk ke dalam lorong bentengnya, gelap tapi asyik. Jangan lupa membawa senter kalau kesana agar tidak gelap-gelapan. Selamat mencoba, dijamin ketagihan. Tidak dipungut biaya kok.
Foto: Sarwono